Leadership

Konsekuensi Kepemimpinan

Tubuhku dulu tidak begini, mengapa sekarang tidak muat lagi? Lagu iklan zaman dahulu masih terngiang sampai sekarang. Keadaan saya saat ini adalah konsekuensi dari apa yang sudah saya lakukan. Setidaknya itu kalau saya sedang sadar, kalau saya sedang tidak sadar maka saya menyalahkan makanan di Amerika Serikat yang porsinya besar-besar. Arti dari kata konsekuensi adalah hasil yang berasal dari dasar kata bersama dan mengikuti. Apa pun yang terjadi saat ini dalam diri seorang pemimpin pada saat bersamaan adalah hasil yang mengikuti dari apa yang dilakukan.

Sebagai seorang pemimpin, sudah pasti ada orang-orang yang dipimpinnya. Apabila tidak ada orang yang mengikutinya, maka orang ini tidak layak disebut sebagai seorang pemimpin. Dalam memimpin, tugas seorang pemimpin adalah membuat sebuah keputusan. Keputusan yang akan berdampak kepada hajat hidup orang banyak. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pelanggan yang dilayani dan terutama juga untuk orang-orang yang dipimpinnya. Setiap keputusan akan ada konsekuensinya.

Semakin besar organisasi yang di pimpin, semakin besar pula konsekuensi yang perlu dihadapi. Tidak semua orang memiliki mental yang siap untuk menerima konsekuensi yang ditimbulkan dari pemilihan keputusan yang diambil. Apabila seorang pemimpin tidak siap dengan konsekuensinya, maka dia akan mengabaikan saat untuk mengambil keputusan, menunda-nunda, sampai akhirnya melepaskan tanggung jawab untuk memilih sepenuhnya kepada orang lain. Sehingga apabila keputusannya salah masih ada orang atau hal lain yang bisa disalahkan.

Konsekuensi dari kepemimpinan hanya bisa diterima oleh pemimpin yang sudah dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sehingga untuk bisa menerima konsekuensi dari keputusannya, seorang pemimpin memerlukan akuntabilitas alias siap menerima tanggung jawab atas konsekuensi yang dimilikinya. Bagaimana caranya untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang akuntabel?

Pertama dia perlu menyadari tugas dan hakikatnya sebagai seorang pemimpin. Kedua, mengambil tanggung jawab atas diri sendiri. Ketiga, berdamai dengan apa pun yang akan dihadapi. Keempat, memahami bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan sehingga pisahkan antara siapa dirinya dengan apa yang dilakukan. Kelima, mempercayai kemampuan diri sendiri untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di masa depan.

Kelima hal ini akan membantu seorang pemimpin berdamai dengan konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi. Dengan begitu ketika saatnya tiba mengambil sebuah keputusan, seorang pemimpin dapat menggunakan segenap energi dan pemikirannya untuk mempertimbangkan yang terbaik bagi dirinya, perusahaannya, pelanggannya dan orang-orang yang dipimpinnya.

To your highest and best leadership self,

Irvan Irawan Jie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *