Pikiran dan hati tidak pernah berpisah apalagi bercerai karena selingkuh seperti berita-berita perselingkuhan dan perceraian yang lagi marak. Keadaan keduanya baik-baik saja walau mungkin tidak disadari bahwa mereka sedang saling diam dan mungkin kurang berkomunikasi. Bagi orang logika seperti saya, saya perlu usaha lebih untuk terhubung dengan baik dengan perasaan saya sendiri. Sebagai seorang pemimpin, apabila hanya menggunakan salah satunya maka akan menjadikannya sebagai seorang pemimpin yang kurang efektif.
Orang-orang yang dipimpin adalah itu, orang atau manusia. Semua manusia memiliki pikiran dan hatinya sendiri-sendiri. Yang dimaksud hati adalah emosional dan perasaannya. Seorang pemimpin yang sangat efektif dengan logika dan pemikirannya tanpa memperhatikan perasaan orang-orang yang dipimpinnya akan menjadi seorang tirani dan otoriter. Seorang pemimpin yang hanya menggunakan perasaannya tanpa menggunakan logika adalah pemimpin yang bodoh dan mudah terombang ambing. Hanya dengan keseimbangan antara pikiran dan hati seorang pemimpin menjadi pemimpin yang efektif.
Harga yang perlu dibayar oleh seorang pemimpin yang memimpin dengan pikiran dan hati adalah usaha untuk membangun relasi yang baik dengan orang-orang yang dipimpinnya. Apabila relasinya terbangun dengan baik, maka orang-orang yang dipimpinnya akan memiliki motivasi yang berasa dari dalam dirinya sendiri. Ketika mereka memiliki motivasi, maka berikutnya yang terjadi adalah mereka akan memiliki kesetiaan kepada pemimpinnya, dan akhirnya mereka akan terinspirasi untuk menjadi seperti pemimpinnya. Baik dalam pikiran maupun dalam bersikap.
Bagaimana menjadi seorang pemimpin memimpin dan menginspirasi? Dimulai dengan memahami bahwa menjadi seorang pemimpin, seseorang perlu menjadi aman dengan dirinya sendiri. Cukup aman dengan diri sendiri untuk mulai mendengarkan dan memahami orang-orang yang dipimpinnya. Setelah memahami maka tahap berikutnya adalah menyelaraskan keinginan orang-orang yang dipimpinnya dengan tujuan sang pemimpin. Terakhir adalah menciptakan keadaan win/win dimana pemimpin dan orang yang dipimpinnya mendapatkan kebaikan dari interaksi yang terjadi.
Mudah? Tentu saja tidak, karena ini adalah tanggung jawab dari seorang pemimpin. Tanggung jawab yang diambil ketika memutuskan untuk menjadi seorang pemimpin. Bisakah diabaikan? tentu saja bisa, seandainya pun diabaikan, maka konsekuensi atas apa yang sudah dipilih oleh pemimpinnya juga perlu dipertanggung jawabkan. Pilihan yang mana yang akan dipilih?
To your highest and best leadership self,
Irvan Irawan Jie


